bisa

One Day One Ayat

Bina Insan Sahabat Al Qur’an -Tulisan ini terinspirasi dari para hafiz-hafiz cilik kita. Ini terjadi beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat hari test tahsinul Qur’an di suatu lembaga rumah Al-Qur’an yang berada di daerah Bangka Jakarta Selatan. Pagi itu sengaja aku dan salah satu seorang kawanku datang lebih awal daripada waktu test masuk rumah Al-Qur’an yang ditentukan oleh panitia sebelumnya. Kupikir kami lah peserta yang datang paling awal atau setidaknya baru ada beberapa peserta saja. Namun, subhanallah… begitu kami melangkahkan kaki memasuki halaman Rumah Al-Qur’an tersebut, peserta sudah mengantri panjang. Dan akhirnya panitia pun membuka registrasi lebih awal. Yang membuatku terpana adalah peserta yang ada bukan hanya dari kalangan mahasiswa maupun usia produktif saja, tetapi banyak di antara mereka adalah anak-anak. Bahkan ada juga yang masih balita. Begitu takjubnya aku waktu itu (maklum… baru pertama ikut kegiatan seperti ini hehe…) Untuk dapat belajar membaca Al-Qur’an di Lembaga Rumah Al-Qur’an tersebut, memang diadakan test terlebih dahulu. Biasanya itu dilakukan untuk menentukan kelas sesuai dengan kemampuan membaca Al-Qur’an kita. Test pun dimulai. Para peserta di bagi ke dalam kelompok-kelompok berbentuk lingkaran dan di murabbi kan oleh seorang ustadz. Satu per satu peserta ditanya motivasi untuk mengikuti kegiatan seperti ini, juga pertanyaan ‘sudah hafal berapa juz’, ‘berapa kali membaca Al-Qur’an dalam sehari’, ‘sudah berapa kali khatam’. Aku tercengang mendengar jawaban dari teman-teman peserta kelompok ku. Selain mereka mayoritas berasal dari universitas-universitas ternama di Jakarta mereka juga sudah banyak yang hafal Al-Qur’an. Ada yang hafal 7 juz. Ada yang hafal 8 juz. Bahkan lebih. Juga ada peserta dari kelompok lain yang ketika ia muraja’ah hafalannya lancar dan terdengar seperti Ahmad Saud. Baik dari nada, tartil dan tajwidnya. Subhanallah… sungguh indah bacaan para calon bidadari itu, menyejukkan dan menenangkan jiwa. “Yaitu, orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (Ar-Ra’d: 28) “Sesungguhnya, Al-Qur’an ini diturunkan dengan syahdu, maka apabila kamu membacanya berusahalah untuk syahdu.” (HR. Abu Ya’la dan Abu Nu’aim) Aku tercengang bukan main. Hatiku sedikit tersentil dengan apa yang aku lihat di sekitarku waktu itu. Usiaku sama dengan mereka. Namun percepatanku sungguh tertinggal. Mereka sudah hafal ber juz-juz al-Qur’an. Sementara aku? Jangankan 1 juz Al-Qur’an, Juz Amma pun masih bolong-bolong. Aku memang bukanlah berasal dari keluarga kyai atau lulusan pesantren, bukan pula lulusan dari sekolah Islam maupun universitas Islam. Namun itu sungguh bukanlah alasan untukku menunda-nunda percepatan kebaikan ini. Memang benar dengan apa yang dikatakan oleh DR Fathi Yakan, dalam bukunya yang berjudul ‘Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam?’ bahwa menjadi muslim yang baik tidak cukup dengan hanya mengandalkan faktor keturunan, identitas maupun penampilan luar, tidak cukup pula hanya sekadar tahu ilmunya tanpa ada aplikasi atau amal di sana. Untuk menjadi muslim yang sejati kita harus memilih, berkomitmen dan berinteraksi dengan Islam dalam segenap aspek kehidupan. Pengumuman kelulusan test masuk Rumah Al-Qur’an beberapa hari kemudian, Alhamdulillah seperti ada embun penyejuk yang masuk ke dalam jiwa, aku lulus. Rasa senang karena lulus test baca Al-Qur’an sangatlah berbeda. Ia seperti embun penyejuk di antara dahaganya ruh. Minggu selanjutnya adalah tahsin perdana, di dalam agenda tersebut ada acara wisuda hafiz. Kupikir peserta wisuda adalah kalangan mahasiswa atau orang dewasa. Namun, ternyata mereka bukanlah para mahasiswa. Bukan pula para orang dewasa. Mereka adalah para hafiz kecil. Usia mereka antara 5 sampai 9 tahun. Tidak tanggung-tanggung, yang mereka baca bukanlah juz 30 atau juz ‘amma, para hafiz cilik itu membaca surat Ath-Thur juz ke 27. Gerimis hati ini mendengar para hafiz cilik itu melantunkan ayat demi ayat Al-Qur’an dengan polos dan lancarnya tanpa membuka mushaf Al-Qur’an. Teman-teman di sekitarku tampak sudah khusyuk mendengarkan dengan mushafnya. Ada juga yang mengikuti bacaan para hafiz cilik tanpa membuka mushafnya. Sementara aku masih sibuk mencari halaman demi halaman. Surat apa lalu ayat berapa. Di halaman mana. Malu rasanya diri ini. Terlebih kepada para hafiz cilik itu. Usia mereka sangat jauh lebih muda, namun prestasi yang mereka capai amatlah luar biasa dan hebat. Lebih hebat dari prestasi matematika. Lebih hebat dari prestasi bahasa inggris. Lebih hebat dari prestasi informatika dan teknologi. Lebih hebat dari prestasi karir yang gemilang. Lebih hebat dari prestasi sebuah jabatan di dunia. Sungguh malu dan pilu rasanya diri ini. Merasa selama ini tengah tertidur. Mungkin di saat diri ini sedang bermalas-malasan atau berhalangan untuk membaca dan menghafal Al-Qur’an, dalam waktu yang bersamaan mereka para hafiz cilik itu tengah sibuk membaca dan menghafal Al-Qur’an. Satu ayat demi satu ayat. Mereka sedikit tidur, sedikit bermain hanya untuk membaca dan menghafal Al-Qur’an. Saudaraku, sudahkah kita mencoba untuk menghafal Al-Qur’an? Berapa juz yang sudah kita hafal? Berapa ayat yang sudah coba kita hafal dan amalkan? Ya, begitulah pertanyaan yang selalu mengusik hatiku. Entah, kapan aku bisa mengejar ketinggalan ini. Kapan aku bisa seperti para hafiz cilik itu. Berapa berat sudah amal yang akan ku bawa di yaumil hisab nanti? Kapan Malaikat maut akan bertandang? Seberapa cepat percepatan ku dengan malaikat maut, karena kematian itu pasti dan kita tak akan pernah bisa menebak kapan ia datang. Masih ingatkan kita dengan kejadian awal tahun 2009? Saat itu adalah saat para media puncak-puncaknya meliput peperangan di Palestina. Pernah suatu ketika tertangkap sebuah gambar para mujahid Palestina yang masih saja membaca Al-Qur’an, walaupun dalam posisi berdiri, duduk maupun memegang senjata. Dan ketahuilah saudaraku, bahwasanya banyak beribu-ribu anak di Palestina di tengah keadaan peperangan mencekam yang sudah hafal Al-Qur’an. Padahal usia mereka sangat jauh lebih muda daripada kita. Mulai sekarang mari kita bersama membaca dan menghafal Al-Qur’an. Semampu yang kita bisa. Semaksimal mungkin kemampuan dan usaha yang kita bisa. Jika merasa berat untuk menghafal Al-Qur’an langsung 30 juz, kita bisa mencobanya dari juz 30 atau juz amma. Kita mulai dari menghafal surat-surat pendek. Jika kita masih merasa berat lagi karena kesibukan dunia kita, kita bisa menghafal dengan target 5 ayat untuk 1 hari, paling tidak luangkanlah waktu 5 menit setelah shalat lima waktu untuk menghafal satu ayat. Namun, apabila masih terasa berat dan belum sanggup, kita bisa menghafal 1 ayat untuk 1 hari. One day One Ayat to save our life. Secara continue atau berkesinambungan. Dalam menghafal

One Day One Ayat Read More »

Yuk, Menghafal Al-Quran!

Bina Insan Sahabat Al Qur’an – “Kak, saya enggak hafal-hafal nih Kak. Saya tuh susah banget Kak menghafal. Udah ngafalin ini Kak, nanti minggu depan lupa lagi,” cerita seorang adik. Seringkali, sebagian dari kita ingin menjadi penghafal Al-Quran tapi selalu saja mengeluh kesulitan ketika berada dalam prosesnya. Ada saja alasan untuk memaklumi diri hingga akhirnya hafalan stagnan, bahkan luntur dari waktu ke waktu. Tak bisa diabaikan memang, menjadi diri yang bisa banyak hal itu tidak mudah. Ada orang yang mudah dalam menghafal, sebagian lebih senang memperbanyak tilawahnya, ada juga yang mudah melakukan bidang lainnya. Utamanya, kita bisa menemukan di mana ahlinya kita, saya pikir itu sudah cukup baik. Ahli di sini spesifiknya lebih kepada amalan syar’i. Mengapa? Seperti halnya para sahabat Rasulullah SAW, yang memiliki amalan andalan berbeda-beda, maka, masing-masing dari kita hendaklah memiliki suatu amalan tertentu sebagai amalan andalan yang bagi kita mudah untuk dikerjakan secara rutin. Karena amalan sedikit yang dikerjakan kontinyu sungguh lebih baik dibanding amalan banyak tapi hanya sekali dilakukan.  Akan tetapi, bukan berarti kita meninggalkan amalan lainnya dan fokus pada apa yang menurut kita mudah. Oleh karena, belum tentu satu amalan tersebut sudah pasti akan diterima Allah. Maka, di samping kita memiliki amalan utama, tetap kita kerjakan amalan makruf lainnya. Misalnya di sini, menghafal Al-Quran. Kita tahu, menghafal sebagian dari Al-Quran adalah fardhu ‘ain bagi setiap insan beriman. Sedangkan, menghafal keseluruhannya ialah fardhu kifayah. Karena itu, paling tidak kita memiliki hafalan sebagian dari Al-Quran. Oleh karena, dalam hadist riwayat At-Tirmidzi dikatakan, “Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak ada Al-Quran sama sekali, tidak ubahnya seperti rumah yang rusak.” Realitanya, masih banyak orang yang belum memiliki hafalan Al-Quran yang benar (tajwidnya). Bahkan, terkadang, beberapa orang beralasan sulit menghafal, dari pekan ke pekan hafalannya tidak bertambah, atau bukannya menambah hafalan malah mengganti hafalan lama dengan hafalan baru. Fenomena ini membuat saya berpikir, “Bagaimana cara memperbaiki untuk ke depannya?” Menghafalkan Al-Quran itu mudah, mengutip Ust. Abdul Aziz Abdur Rauf. Jujur, saya awalnya tak percaya, dengan perkataan seperti itu. “Gimana caranya? Al-Quran itu kan jumlahnya 30 juz/114 surat/terdiri dari 6236 ayat. Belum lagi, banyak surat dengan surat lainnya yang memiliki kalimat yang hampir sama.” Namun ternyata, di antara mereka yang belum berhasil, banyak juga orang yang bisa menghafalkan seluruh ayat Al-Quran, juga paham isi kandungan dari setiap ayat yang dihafalkan. Mulai dari usia balita, pemuda, orang tua, semua pernah saya dengar/baca bisa selesai menghafalkan Al-Quran. Lalu, apa yang membuat kita ragu untuk menghafal? Kuncinya, mulai dari sekarang. Kalau bukan kita lantas siapa lagi? Kitab yang Allah jaga kemurniannya hingga hari kiamat ini siapa yang akan menghidupkan kalau bukan penganutnya sendiri? Mulai Dari Mana dan Bagaimana? Sebelum menghafal Al-Quran hendaknya perbaiki dahulu bacaan Al-Quran kita. Kitab ini diturunkan dengan kaidahnya (tajwid) maka kita pun harus melafazkan sesuai dengan kaidahnya, seperti kata Imam Ibnu Al-Jazari, “Membaca Al-Quran dengan tajwid itu hukumnya wajib. Siapa yang tidak membetulkan bacaan Al-Qurannya berdosa. Karena Allah menurunkannya dengan tajwid. Dan demikian Al-Quran dari-Nya sampai kepada kita.” Jelas dari sini kita pahami bahwa membaca Al-Quran itu ada ilmunya. Demikian saat menghafal, ucapannya harus benar, karena kita tahu, ada dua kesalahan dalam membaca Al-Quran, lahnul jaaly (kesalahan besar/fatal) dan lahnul khofiy (kesalahan ringan). Lahnul jaaly contohnya saat kita salah mengucap huruf karena makhorijul hurufnya tidak tepat, ketika hamzah dan ‘ain misalnya, kita baca sama, maka ketika ini terjadi hukumnya haram dan artinya kita berdosa, sebab salah ucap berarti mengubah arti. Contoh lainnya terjadi saat mad thabi’i dibaca lebih/ kurang dari dua harakat. Sedangkan lahnul khofiy, terjadi saat kita kurang ghunnah (dengung), kurang dalam mengucapkan mad selain mad thabii, atau kurang tafkhim (tebal)/tarqiq (tipis). Kemudian, sama seperti mengerjakan hal lainnya, mulailah menghafal Al-Quran dari yang mudah, dari juz yang paling familiar di telinga kita. Umumnya, lembaga tahsin-tahfizh Al-Quran menyarankan untuk memulai dari juz 30, kemudian 29, ke juz 28/juz 1, juz 2, dst. Memulai dari yang mudah, bertujuan agar penghafal lebih semangat ketika menjalani proses. Kian lama, penghafal akan terbiasa untuk menghafal, diawali dari surat yang memiliki jumlah ayat sedikit hingga bisa sampai pada surat yang panjang. Lebih dari itu, bagi yang ingin serius menghafal Al-Quran, lebih baik mencari tahu berbagai macam metode menghafal Al-Quran dan temukan metode yang paling sesuai dengan kondisi dan waktu yang dimiliki. Tak perlu khawatir jika kita memiliki aktivitas lain, karena banyak orang yang aktif dakwah, membina, kerja, memiliki anak banyak, dan lainnya, mampu meluangkan waktu untuk menghafal. Istilah saya “Al-Quran itu bukan hanya milik anak pesantren.” So, pasti bisa (insya Allah). Hal lain yang bisa dilakukan, buatlah target hafalan, baik per hari, per bulan, per tahun, hingga kapan akan menyelesaikan hafalan. Kemudian, muahadah kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam prosesnya. Tentunya hal ini diiringi dengan berdoa kepada Allah, agar dimudahkan dalam menghafal, mencerna ayat, dan memahaminya. Rajin Muraja’ah Semakin banyak surat yang kita hafal, hendaknya semakin sering pula kita memuraja’ah (mengulang) surat yang telah selesai dihafal. Hal ini agar ingatan kita terhadap surat tersebut lebih kuat dan tidak tercampur-campur dengan surat-surat yang memiliki kalimat atau kata yang hampir sama. Cara memuraja’ah bisa melalui shalat, di buku-buku tentang menghafal Al-Quran seringkali disarankan untuk menghafal ketika dini hari, saat otak masih fresh, begitu juga dengan muraja’ah, bisa dilakukan saat shalat tahajud, atau dhuha. Namun, bagi saya itu relatif. Ada juga orang yang memiliki waktu lain untuk menghafal dan muraja’ah, entah malam atau siang. Sesuaikan saja dengan kondisi kita. Cari waktu rehat, yang tidak ada aktivitas terlalu berat, atau usahakan tidak menghafal saat kondisi lelah karena kinerja otak sedang tidak maksimal sehingga cenderung sulit untuk menangkap apa yang sedang kita pelajari. Jadi, bukan waktu sisa yang dipakai untuk menghafal, tapi benar-benar waktu terbaik yang kita miliki. Ikuti juga komunitas-komunitas penghafal Al-Quran, agar budaya menghafal lebih terasa. Tujuan lainnya supaya bisa saling mengingatkan dan memotivasi diri untuk menambah hafalan. Ketika menghafal, semakin banyak anggota tubuh kita digunakan dalam proses menghafal, endapan ayat juga akan lebih cepat dicerna. Telinga misalnya dengan sering-sering mendengar murattal, tangan dengan menulis ayat Al-Quran dan saat menulis juga mata dan otak kita bekerja untuk menyimpan memori. Kontinuitas proses seperti ini akan mempercepat kerja

Yuk, Menghafal Al-Quran! Read More »

Langkah Praktis Mempersiapkan Anak Hafal al-Qur’an

Bina Insan Sahabat Al Qur’an – Pertama: Bagaimana kita mempersiapkan anak untuk menghafal al-Qur’an? Proses penyiapan anak untuk hafal al-Qur’an terlihat pada beberapa poin berikut: –          Menciptakan lingkungan rumah Qur’ani untuk anak. Dalam arti seorang anak tidak akan memberikan perhatian dan cintanya kepada al-Qur’an, selama tidak ada contoh dari keluarganya yang terdiri dari kedua orangtua dan saudara-saudaranya. Oleh karena itu hendaknya kedua orangtua harus memulai menghafal dan mempelajari al-Qur’an terlebih dahulu. Pasti setelah itu anak akan belajar dari mereka. Dan hendaknya ada jadwal-jadwal khusus membaca al-Qur’an walaupun hanya beberapa rubu’ (seperempat halaman) saja sehari.    Orangtua harus berusaha menghafal al-Qur’an beberapa juz dari al-Qur’an dan konsisten dengannya. Mereka bisa menghafal 10 ayat dalam sepekan dengan berusaha untuk menyetorkan juz yang dihafalkannya itu kepada orang lain. Atau bisa saling berlomba siapa yang bisa menyesaikan juz yang sedang dihafal terlebih dahulu. Dan itu dilakukan dengan disaksikan anak-anak mereka. Bisa juga dilakukan di depan seorang qori atau pakarnya. Entah di rumah atau di masjid. Anak-anak juga harus dibiasakan diajak ke masjid agar mereka juga terbiasa melakukannya. Perlu juga kita ingatkan bahwa hafalan al-Qur’an harus diiringin dengan amal. Sehingga perilaku kedua orang tua sejalan dengan ajaran-ajaran al-Qur’an. Para sahabat dahulu tidak sampai melewati 10 ayat al-Qur’an sampai mereka bisa mengamalkan apa yang mereka hafal. –          Kedua orangtua saling memberi hadiah ketika keduanya menyelesaikan juz yang telah dihafal. Dan hendaknya anak-anak juga mengetahuinya. Atau kalau bisa juga turut serta membelikan hadiah untuk keduanya. –          Kedua orangtua konsisten mendengarkan program-program radio atau mendengarkan rekaman-rekaman kaset (atau yang lainnya) dan mendiskusikannya di depan anak-anak. Nah dari sini keduanya bisa mengembangkan skill pendengaran pada anak. –          Memperdengarkan kepada anak suara kaset-kaset rekaman salah seorang qori terkenal dan memiliki suara dan bacaan yang bagus ketika mereka sedang mengerjakan hal-hal yang mereka senangi seperti menggambar (melukis) atau mewarnai. –          Menggunakan rekaman-rekaman hafalan al-Qur’an di komputer sehingga akan membangkitkan keinginan anak duduk di depan komputer dan melatihnya mengikuti ayat-ayat yang hendak dihafal. –          Memperkenalkan anak dengan al-Qur’an yang mulia ini. Misalnya tentang kisah turunnya al-Qur’an kepada Rasulullah saw, jumlah juz-juz dan surat-surat di dalamnya. Serta menceritakan kepadanya beberapa kisah-kisah al-Qur’an seperti kisah dalam surat al-Baqoroh, dua orang pemilik kebuh dan kisah-kisah para nabi. Kedua: Kapan Seorang Anak Mulai Menghafal Al-Qur’an?                 Sebagian orang mengatakan bahwa anak mulai bisa menghafal al-Qur’an sejak usia 3 tahun. Sementara yang lain mengatakan pada usia empat tahun. Tapi saya yakin menghafal bisa dilakukan sebelum itu dan semuanya tergantung dari pengalaman. Oleh karena itu banyak anak-anak yang cerdas sepanjang sejarah yang telah menyelesaikan hafalan al-Qur’an di usia-usia ini. Sebagian mereka ada yang hafal pada usia 5 tahun. Dan ini tergantung dari kondisi individunya. Perlu kita ketahui bahwa Allah tidak membeban suatu jiwa melainkan apa yang ia sanggupi. Untuk anak anda hendaknya anda memperhatikan hal-hal berikut: ·         Kenali sejauh mana kemampuan anakmu dalam mengafal. Pada umumnya, setiap ibu pasti tahu apakah anaknya cepat dalam menghafal, kuat ataukah lemah memorinya? Apabila sekarang anda belum mengenal, maka kenalilah saat ini juga. Apabila anda sudah mengetahui bahwa dia cepat dalam menghafal atau sudah bagus hafalannya –dan itu bisa dilihat dari kemampuannya menyanyikan nasyid-nasyid, lagu-lagu yang ia lihat di TV, radio atau rekaman-rekaman lainnya, maka yang harus anda lakukan adalah: ·         Buatlah perencaaan bersama suami (rencana tahunan, bulan, pekanan dan harian menghafal al-Qur’an) dalam sebuah jadwal yang dipantau oleh mereka misalnya dalam menyelesaikan 6 juz dalam setahun. Atau menyelesaikan hafalan al-Qur’an seluruhnya dalam 5 tahun Insya Allah. Anak bisa menghafal 20-25 ayat dalam sepekan atau sekitar seperempat hizb. Ada orang yang bisa menghafal lebih banyak dari itu. Tapi cukuplah kadar di atas agar tidak menjadi beban atau kesulitan. Tapi ada juga orang yang tidak memperhatikan ini semua. Tapi saran saya jangan ada paksaan dalam hal ini. Sesuatu yang sedikit tapi tetap dilakukan secara rutin lebih baik dari pada banyak tapi terputus-putus, tidak ada berkah dan cepat lupa karena tidak dijaga. ·         Anak memulai hafalannya dari juz Amma.·         Anak mendengarkan sampai juz yang sudah ditentukan dalam sehari melalui kaset rekaman 4-5 ayat. Bisa jadi ayatnya akan lebih apabila ayat-ayat yang hendak dihafal adalah ayat-ayat pendek. Dan itu bisa dibiasakan saat sedang mewarnai atau menggambar. Kita tidak harus memaksakan anak duduk mendengarkan ayat-ayat yang akan dihafal dan mengulang-ulanginya. ·         Pada akhir pekan kita bisa melihat ayat-ayat al-Qur’an sudah mulai melekat di benaknya. Akan tetapi hanya butuh pengikatan saja pada ayat-ayatnya. Nah saat itu usahakan anak diajak pergi ke masjid untuk melihat anak-anak lainnya yang juga sedang melakukan apa yang ia lakukan. Dan ini akan membangkitkan semangat perlombaan. “dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”(Qs al-Mutaffifin: 26). Hendaknya anak difokuskan di bawah penanganan seorang guru yang spesialis. Apabila belum memungkinkan, maka ayahnya bisa melakukan hal itu. Dan itu dilakukan pada setiap akhir pekan (weekend). Caranya, anak duduk di depan ayahnya, lalu ayahnya membacakan ayat terlebih dahulu, kemudian anaknya mengikutinya. Dan umumnya aktifitas ini hanya memakan waktu 20 menit saja. Seyogyanya ini dilakukan secara terus-menerus dan jangan sampai meninggalkannya sampai anak benar-benar melakukannya dengan baik. Ini dilihat dari satu sisi. Dari sisi lainnya, agar terbentuk pada anak kebiasaan membaca al-Qur’an, menjaga, memelihara dan mencintainya. Akan lebih bagus lagi apabila kegiatan ini dilakukan dengan sesuatu yang disukai anak, misalnya mengajaknya jalan-jalan atau rihlah di akhir pekan. Saya tidak bermaksud mengajaknya rihlah atau jalan sebagai syarat ia menghafal. Sebagaimana saya juga mengingatkan keharusan membangkitkan semangat kegembiraan dan gairah terhadap kegiatan ini tanpa mengurangi sedikitpun perasaan menghormati dan menjunjung tinggi dari yang dibaca. ·         Mengapresiasi anak ketika ia bisa melakukan hafalannya lebih cepat dengan kata-kata yang baik, penuh pujian dan mengingatkannya bahwa apa yang dilakukannya itu akan membahagiakan kedua orangtuanya sebelum ia mendapatkan ridho dari Tuhannya. Atau bisa juga dengan mentraktirnya makan di luar rumah.·         Mengadakan pesta setelah ia berhasil menghafal satu juz. ·         Agar hafalan al-Qur’an tidak mudah hilang, maka kita harus menjaganya dengan murojaah secara berkesinambungan. Anak harus melakukan murojaah hafalannya setiap pekan dengan cara yang sudah saya sebutkan di atas. Ia juga harus melakukan murojaah bulanan. Murojaah dilakukan dengan mendengarkan kembali ayat-ayat yang dihafal pada 3 hari terakhir dalam sebulan, lalu dengan cara yang

Langkah Praktis Mempersiapkan Anak Hafal al-Qur’an Read More »

Bersahabat Dengan Al Quran

Bina Insan Sahabat Al Qur’an – Sesulit apapun kehidupan yang sedang dijalani, dan seberat apapun perjuangan yang sedang dihadapi, pasti akan terasa lebih ringan dan damai jika ada sahabat yang selalu setia menyertai, dibanding jika semuanya harus ditanggung seorang diri.  Dan sebaliknya, keberhasilan spektakuler yang kita raih pun terasa tak berarti apabila tidak ada siapa-siapa untuk tempat berbagi. Demikianlah hidup ini jadi miris sekali jika selamanya harus dijalani sendiri, maka itu sahabat yang setia harus kita cari sebagai teman berbagi apa saja yang kita alami. Sebelum mencari sahabat manusia, kita sebaiknya bersahabat terlebih dulu dengan Al-Quran. Dikarenakan dalam Al-Quran kita dapat menemukan panduan hidup yang benar. Sebaliknya apabila kita jauh dari Al-Quran dan tidak menjadikannya sahabat kita, maka hidup kita akan mudah diperdaya oleh rayuan dan bujukan setan untuk dijadikan sahabatnya. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam firman Allah: “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhruf {43} : 36). Intinya, dalam kehidupan kita memiliki dua pilihan untuk dijadikan sahabat, Al-Quran atau setan. Manakala kita bersahabat dengan Al-Quran maka kita akan selamat di jalan Allah. Sebaliknya bersahabat dengan setan kita akan merugi dan jatuh ke lembah kehancuran dan kesesatan. Agar kita terhindar dari persahabatan dengan setan, Al-Quran telah memberikan tips yaitu sering-sering membaca ta’awwudz yaitu ungkapan A’udzubillahi minasy-syaithonir rajim. “Aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl 98). Kita harus bisa bersahabat dengan Al-Quran, karena Al-Quran adalah mukjizat khalidah (mukjizat abadi). Keberadaannya diyakini sebagaimana kata pepatah “tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.” Ia akan senantiasa shalih fil al-zaman wa al-makan (selalu relevan di setiap waktu dan tempat). Jadi kita sangat beruntung bila dapat bersahabat dengan Al Quran.   Untuk menjadikan Al-Quran sebagai sahabat karib, tentu kita harus memposisikan dan memperlakukannya seperti kita memperlakukan sahabat. Yakni menjadikannya sebagai teman curhat, mendengar nasehatnya, mengikuti petuahnya dan ingin selalu dekat di sisinya.  Dalam hal ini, bersahabat dengan Al Quran dengan selalu membaca, menjadikannya petunjuk, memahaminya dan mengamalkannya. Dengan begitu kita akan memperoleh kebahagiaan hakiki dunia-akhirat. Rasulullah Saw menjanjikan, bahwa setiap orang beriman yang bersahabat akrab dengan Al Quran, dijamin akan mendapat syafa’at dari Al-Qur’an: “Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang bersahabat dengannya”. (HR. Muslim) Rasulullah Saw bersabda “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa‘at bagi pembacanya.” (HR. Muslim dari Abu Umamah).) “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS.An-Nahl: 89) Firman Allah Swt: “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Ma’idah: 15-16) Al-Quran turun kepada Baginda Nabi Saw. memang untuk didakwahkan. Allah Swt. berfirman: ”Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia itu dibawa turun oleh Ruh al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan” (QS. asy-Syu’ara [26]:192-194). Rasulullah Saw. bersabda, “Sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah…” (HR Ahmad). Karena itu, sudah selayaknya para aktifis dakwah senantiasa berinteraksi dengan Al Quran, bersahabat dengan Al Quran, bahkan harus merasa bergantung pada Al Quran. Sebagaimana seorang prajurit di medan perang bergantung pada senjatanya, demikian pula seharusnya pengemban dakwah  selalu bergantung pada Al Quran. Apa jadinya prajurit berperang tanpa senjata? Apa jadinya pengemban dakwah berlaga di medan dakwah tanpa Al Quran di hati dan pikirannya? Rasulullah Saw. bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah Allah, membaca kitab Allah dan mempelajarinya, melainkan akan diturunkan kepada mereka ketenangan; mereka akan diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh malaikat dan akan disebut-sebut Allah di hadapan orang-orang yang ada di sisi-Nya (para malaikat).” (HR Muslim). Kecintaan dan interaksi kita dengan Al Quran juga merupakan ukuran kebersihan hati kita. Jika suatu ketika hari kita  merasa berat untuk membaca Al Quran, bisa jadi itu adalah pertanda bahwa hati kita kotor. Untuk membersihkannya, paksakanlah untuk membaca Al Quran, InsyaAllah ayat-ayat Al Quran yang kita baca akan membersihkan kotoran-kotoran tersebut. Allah Swt berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi ouang-orang yang beriman. ” (QS. Yunus {10} : 57). Sungguh pantas, kiranya setiap kaum muslim menjadikan Al Qur’an sebagai sahabat karibnya, yaitu dengan berakhlak sebagaimana akhlak Al Qur’an, menerapkan manajemen hidup yang Qurani, cara bergaul ala Al Qur’an. Misalnya tentang perlunya menjaga tali persaudaraan, saling tolong menolong, tidak boleh bercerai-berai, bermusuhan, berkelahi, bunuh-membunuh, caci-mencaci, ghibah. Dan setiap orang selalu berusaha untuk hidup rukun dan damai dengan orang lain. Wahai diri… tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Mengaku cinta kepada-Nya, tetapi tidak merasa senang berinteraksi dengan kalam-Nya. Bukankah ketika manusia cinta dengan manusia lain, dia menjadi senang membaca surat atau sms nya, bahkan berulang-ulang? Mengapa kamu begitu berat dan enggan hidup dengan wahyu Allah Swt? Adakah jaminan bahwa kamu mendapat pahala gratis tanpa beramal shalih? Infaq cuma sedikit, jihad belum siap, kalau tidak dengan Al Quran, lalu dengan apa lagi? Mulai sekarang, mari kita jadikan Al Quran sebagai sahabat terbaik kita. Sumber

Bersahabat Dengan Al Quran Read More »

Faedah Ilmiah Menghafal Al-Qur’an

Bina Insan Sahabat Al Qur’an – Banyak sekali ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits nabi yang menegaskan tentang keutamaan menghafal Al-Qur’an. Selain keutamaan spiritual seperti yang telah disebutkan tadi, guru saya Dr. KH. A. Muhaimin Zen, MA., menerangkan bahwa menghafal Al-Qur’an juga mempunyai faidah-faidah ilmiah. Diantara faidah ilmiah tersebut adalah: Pertama, Al-Qur’an memuat 77.439 kalimat. Jika penghafal Al-Qur’an bisa menguasai arti kalimat-kalimat tersebut, berarti telah menguasai banyak arti kosa kata bahasa arab. Seakan-akan ia telah menghafal sebuahh kamus bahasa arab. Kedua, dalam Al-Qur’an banyak sekali kata-kata bijak yang sangat bermanfaat dalam kehidupan. Dengan menghafal Al-Qur’an seorang akan banyak menghafalkan kata-kata bijak tersebut. Ketiga, bahasa dan susunan kalimat Al-Qur’an sangatlah memikat dan mengandung sastra yang tinggi. Seorang penghafal Al-Qur’an yang mampu menyerap wahana sastranya akan mendapatkan dzauq adabi (rasa sastra) yang tinggi. Ini akan sangat bermanfaat dalam mendalami sastra Al-Qur’an yang indah dan menggugah jiwa; yang tidak mampu dinikmati oleh mereka yang belum menghafal Al-Qur’an. Keempat, dalam Al-Qur’an banyak sekali contoh-contoh yang berkenaan dengan ilmu nahwu dan sharaf. Seorang penghafal Al-Qur’an akan dengan cepat menghadirkan dalil-dalil dari ayat Al-Qur’an untuk sebuah kaidah nahwu sharaf Kelima, Al-Qur’an adalah sumber hukum utama. Seorang penghafal Al-Qur’an akan dengan cepat pula menghadirkan ayat-ayat hukum yang ia perlukan dalam menjawab suatu persoalan hukum. Keenam, seorang penghafal Al-Qur’an akan mudah menghadirkan ayat-ayat yang mempunyia tema yang sama. Hal ini sangat berguna untuk menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an atau untuk menulis tafsir tematik (maudhu’i). Ketujuh, seorang penghafal Al-Qur’an ketika ia ditunjuk menyampaikan khutbah, pidato atau ceramah, ia tidak akan kesulitan dan dapat dengan segera menghadirkan tema yang ia kehendaki. Seorang penghafal Al-Qur’an akan terus melatih otaknya. Semakin dilatih, maka otak itu akan semakin kuat, sebagaimana anggota tubuh yang lainnya. Para ulama menyatakan bahwa semulia-mulia hamba di sisi Allah setelah para nabi adalah para ulama yang mengamalkan ilmu mereka. Berikutnya adalah para penghafal Al-Qur’an. Mereka meninggal dunia sama dengan meninggalnya para nabi. Mereka akan dibangkitkan dari kubur mereka dan dikumpulkan di Padang Mahsyar bersama-sama para nabi. Mereka pun meraih pahala seperti raihan pahala para nabi. Oh, alangkah beruntungnya para penghafal Al-Qur’an! Sumber

Faedah Ilmiah Menghafal Al-Qur’an Read More »

Mulailah Dengan Juz yang Mudah…!

Bina Insan Sahabat Al Qur’an –  Ketika mengetahui keutamaan menghafal Al-Qur’an, tiba-tiba diri ini langsung bersemangat untuk menghafal Al-Qur’an. Selanjutnya bingung, mau mulai dari mana? Mulai saja dari juz-juz atau surah-surah yang paling mudah terlebih dahulu. Dr. Raghib As-Sirjani menyatakan bahwa menghafal Al-Qur’an tidak mesti sesuai urutan dalam Al-Qur’an, apalagi sewaktu awal menghafal. Beliau lebih cenderung apabila kita memulai dari juz-juz Al-Qur’an yang lebih mudah. Hal ini dilakukan agar bisa menghafalnya dengan cepat, serta menghasilkan hafalan yang baik dalam waktu yang relatif singkat. Sebagai contoh, kita bisa memulai dari beberapa juz-juz berikut: Pertama, Juz ke-30 Kedua, Juz ke-29 Ketiga, Surah Al-Baqarah Keempat, Surah Ali Imran Mungkin pada mulanya merasa khawatir tidak sanggup menyelesaikan hafalan kedua Surah ini, yaitu Al-Baqarah dan Ali Imran. Tapi sesungguhnya dibanding surah lainnya, kedua surah ini sangat mudah karena sejumlah alasan. –          Banyak sekali ayat-ayat yang sering kita dengar dari kedua surah tersebut. Sebab ia seringkali dibaca oleh imam dalam shalat –          Kedua surah ini mengandung banyak kisah. Orang yang telah mengetahui dan menguasai kisahnya, akan sangat mudah menghafal ayat-ayat tersebut. –          Di hari kiamat kelak, surah Al-Baqarah dan Ali Imran akan membela penghafalnya. Kemudian kita lanjutkan hafalan Surah An-Nisa, lalu Surah Al-Maidah dan seterusnya hingga selesai 30 juz, insya Allah. Sumber

Mulailah Dengan Juz yang Mudah…! Read More »

23 Keuntungan Menghafal Al-Quran

Bina Insan Sahabat Al Qur’an – Banyak hadits Rasulullah saw yang mendorong untuk menghafal Al Qur’an atau membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang individu muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah swt. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, “Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Qur’an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh.” (HR. Tirmidzi) Berikut adalah Fadhail Hifzhul Qur’an (Keutamaan menghafal Qur’an) yang dijelaskan Allah dan Rasul-Nya, agar kita lebih terangsang dan bergairah dalam berinteraksi dengan Al Qur’an khususnya menghafal. Fadhail Dunia 1. Hifzhul Qur’an merupakan nikmat rabbani yang datang dari Allah Bahkan Allah membolehkan seseorang memiliki rasa iri terhadap para ahlul Qur’an,“Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, ’Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat” (HR. Bukhari) Bahkan nikmat mampu menghafal Al Qur�an sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak mendapatkan wahyu,“Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Qur’an, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan kepadanya.” (HR. Hakim) 2. Al Qur’an menjanjikan kebaikan, berkah, dan kenikmatan bagi penghafalnya “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari dan Muslim) 3. Seorang hafizh Al Qur’an adalah orang yang mendapatkan Tasyrif nabawi (penghargaan khusus dari Nabi SAW) Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW kepada para sahabat penghafal Al Qur’an adalah perhatian yang khusus kepada para syuhada Uhud yang hafizh Al Qur’an. Rasul mendahulukan pemakamannya. “Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian beliau bersabda, “Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qur’an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari) Pada kesempatan lain, Nabi SAW memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi. Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al Baqarah.” Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’i) Kepada hafizh Al Qur’an, Rasul SAW menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama’ah. Rasulullah SAW bersabda,“Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim) 4. Hifzhul Qur’an merupakan ciri orang yang diberi ilmu “Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (QS Al-Ankabuut 29:49) 5. Hafizh Qur’an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad) 6. Menghormati seorang hafizh Al Qur’an berarti mengagungkan Allah “Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah menghormati orang tua yang muslim, penghafal Al Qur’an yang tidak melampaui batas (di dalam mengamalkan dan memahaminya) dan tidak menjauhinya (enggan membaca dan mengamalkannya) dan Penguasa yang adil.” (HR. Abu Daud) Fadhail Akhirat 7. Al Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi penghafal Dari Abi Umamah ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah olehmu Al Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).”” (HR. Muslim) 8. Hifzhul Qur’an akan meninggikan derajat manusia di surga Dari Abdillah bin Amr bin ’Ash dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada shahib Al Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al Qur’an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi) Para ulama menjelaskan arti shahib Al Qur’an adalah orang yang hafal semuanya atau sebagiannya, selalu membaca dan mentadabur serta mengamalkan isinya dan berakhlak sesuai dengan tuntunannya. 9. Para penghafal Al Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan taat “Dan perumpamaan orang yang membaca Al Qur’an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Muttafaqun ?alaih) 10. Bagi para penghafal kehormatan berupa tajul karamah (mahkota kemuliaan) Mereka akan dipanggil, “Di mana orang-orang yang tidak terlena oleh menggembala kambing dari membaca kitabku?” Maka berdirilah mereka dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan, diberikan kepadanya kesuksesan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan kirinya. (HR. At-Tabrani) 11. Kedua orang tua penghafal Al Qur’an mendapat kemuliaan Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim) 12. Penghafal Al Qur’an adalah orang yang paling banyak mendapatkan pahala dari Al Qur’an Untuk sampai tingkat hafal terus menerus tanpa ada yang lupa, seseorang memerlukan pengulangan yang banyak, baik ketika sedang atau selesai menghafal. Dan begitulah sepanjang hayatnya sampai bertemu dengan Allah. Sedangkan pahala yang dijanjikan Allah adalah dari setiap hurufnya. “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu hasanah, dan hasanah itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. At-Turmudzi) 13. Penghafal Al Qur’an adalah orang yang akan mendapatkan untung dalam perdagangannya dan tidak akan merugi “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Faathir 35:29-30) Adapun fadilah-fadilah lain seperti penghafal Al Qur’an tidak akan pikun, akalnya selalu sehat, akan dapat memberi syafa’at kepada sepuluh orang dari keluarganya, serta orang yang paling kaya, do’anya selalu dikabulkan dan pembawa panji-panji Islam, semuanya tersebut dalam

23 Keuntungan Menghafal Al-Quran Read More »

1 Tahun Insya Allah Selesai 30 Juz

Bina Insan Sahabat AL Qur’an – Ya sesuai kemauan dan kemampuan masing-masing. Ada yang bisa selesai dalam 2 tahun, ada yang 1 tahun, ada yang selesai dalam waktu 6 bulan, ada yang 3 bulan, bahkan ada yang selesai hapalan 30 juz dalam waktu 2 bulan. Lihatlah, betapa banyak orang yang cerdas, pintar, dan ingin menghapal Al-Qur’an. Tapi karena tidak punya rencana kapan dia akan mulai, dan kapan akan menyelesaikan hapalannya, maka tahun-tahun berlalu dengan kesibukan yang tidak berujung. Keinginan sejak lima tahun yang lalu sampai sekarang  belum terwujud. Sejak saat ini kita rencakan kapan selesai hafal Al-Qur’an. Misalnya dua tahun lagi, atau pada usia tertentu, misalnya usia 30 tahun. Kemudian segera aksi, menentukan waktunya menghafal Al-Qur’an setiap hari (misalnya pagi, sore, atau malam), berapa halaman yang akan ia hafal dalam sehari, dan kepada siapa ia akan menyetorkan hafalannya. Penyelesaian hafalan akan sangat tergantung berapa halaman yang kita hafal setiap hari. Kalkulasinya seperti apa? Inilah gambaran singkat untuk penyelesaian setiap satu juz: Hapalan 5 Baris/Hari satu juz bisa selesai dalam waktu 60 hari Hapalan setengah halaman/hari satu juz bisa selesai dalam waktu 40 hari Hapalan satu halaman/hari satu juz bisa selesai dalam waktu 20 hari Hapalan satu lembar/hari satu juz bisa selesai dalam waktu 10 hari Artinya, kalau satu juz selesai dalam waktu 10 hari dengan kontinyu, maka dalam sebulan bisa hapal tiga juz, atau paling kurang dua juz. Kalau sebulan hapal tiga juz, maka dalam waktu setahun insya Allah khatam. Semua dengan syarat: kita harus akrab berinteraksi dengan Al-Qur’an dan meluangkan waktu lebih banyak dengan Al Qur’an. Sumber

1 Tahun Insya Allah Selesai 30 Juz Read More »

Hati – Hati dengan Lahn (Kesalahan) dalam Membaca Alquran

Bina Insan Sahabat Al Qur’an – Lahn adalah suatu kesalahan atau kondisi yang menyimpang dari kebenaran. Kesalahan itu dibagi menjadi dua jenis: 1) Jali (besar) yaitu kesalahan yang terdapat dalam lafazh dan mempengaruhi tata cara bacaan, baik itu mengubah arti atau tidak mengubahnya. Dinamakan “kesalahan besar” karena kesalahan ini diketahui oleh ulama qiro’ah maupun orang awam, seperti: a. Perubahan huruf dengan huruf Seharusnya اَلْمُسْتَقِيْمَ dibaca اَلْمُصْتَقِيْمَ Seharusnya اَلَّذِيْنَ dibaca اَلَّزِيْنَ Seharusnya اَلضَّالِّيْنَ dibaca اَلظَّالِّيْنَ Seharusnya اَلْمَغْضُوْبِ dibaca اَلْمَقْضُوْبِ b. Perubahan harokat dengan harokat Seharusnya قُلْتُ dibaca قُلْتِ Seharusnya رَبِّ dibaca رَبُّ Seharusnya أَنْعَمْتُ dibaca أَنْعَمْتِ Seharusnya لَمْ يَلِدْ dibaca لَمْ يَلِدُ c. Penambahan huruf Seharusnya مَنْ كَانَ dibaca مَانْ كَانَ Seharusnya مِنْكُمْ dibaca مِينْكُمْ d. Penghilangan tasydid Seharusnya عَرَّفَ dibaca عَرَفَ Seharusnya بَدِّلْ dibaca بَدِلْ e. Penambahan tasydid Seharusnya فَرِحَ dibaca فَرِّحَ Seharusnya مَرَجَ dibaca مَرَّجَ f. Penghilangan bacaan panjang Seharusnya اَلْكِتَابُ dibaca اَلْكِتَبُ Seharusnya اَلْبَيَانَ dibaca اَلْبَيَنَ Kesalahan-kesalahan di atas hukumnya haram. Ulama telah sepakat tentang keharamannya, dan  pelakunya berdosa. 2) Khafi (kecil) yaitu kesalahan yang berkaitan dengan tidak sempurnanya pengucapan bacaan; kesalahan seperti ini hanya diketahui oleh orang yang ahli dalam bidang ini (bidang qiro’ah, pent.), seperti: a. Tidak sempurna dalam pengucapan dhommah. وَنُوْدُوْا → Seharusnya dibaca wa nuuduu tetapi dibaca wa noodoo b. Tidak sempurna dalam pengucapan kasroh. سَبِيْلِهِ → Seharusnya dibaca sabiilih tetapi dibaca sabiileh c. Tidak sempurna dalam pengucapan fathah. اَلْبَاطِلُ → Seharusnya dibaca al-baathilu tetapi dibaca al-boothilu d. Menambah qalqalah pada kata yang seharusnya tidak berqalqalah. فَضْلَهُ → Seharusnya dibaca fadhlahuu tetapi dibaca fadhe‘lahuu e. Mengurangi bacaan ghunnah. أَنَّ → Seharusnya tasydid dibaca dengan dengung sekitar dua harakat tetapi tidak dibaca dengan dengung. f. Terlalu memanjangkan bacaan panjang. اَلرَّحْمَانُ → Seharusnya mim tersebut dibaca dua harakat tetapi dibaca empat, lima, atau enam harokat. g. Terlalu menggetarkan ro’. الَذُّكُوْرُ → Seharusnya dibaca adz-dzukuur tetapi dibaca adz-dzukuurrrr. Yang rajih, hukum kesalahan ini juga terlarang. Sumber

Hati – Hati dengan Lahn (Kesalahan) dalam Membaca Alquran Read More »

Pahala yang Berlipat-lipat Dari Al-Qur’an

Bina Insan Sahabat Al Qur’an – Membaca al-Qur’an adalah aktifitas yang sungguh mulia. Apalagi menghafalkannya dan bisa hafal hingga 30 juz. Pasti suatu keistimewaan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang dipilih oleh-Nya. Karena hanya hamba-hamba pilihan-Nya saja, maka tidak heran apabila jumlah mereka tidak begitu banyak dibandingkan dengan mereka yang tidak hafal. Namun, bukan berarti ini menutup pintu kebaikan yang Allah bukakan kepada kita. Tidak. Ya, Allah memang memberikan kelebihan pada sebagian hamba-hamba-Nya terhadap yang lain. Dan tentu saja, kelebihan pada bidang al-Qur’an suatu hal yang sungguh luhur dan terhormat di sisi-Nya. Banyak sudah dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadits yang menyebutkannya. Tapi, apa sih sesungguhnya ganjaran yang Allah janjikan kepada mereka yang menghafalkan lalu kemudian mengamalkannya? Pahala itu Berawal dari Belajar Membaca: Sebelum kita lebih jauh menyelami kenikmatan al-Qur’an, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu tentang tilawah (membaca al-Qur’an). Tilawah adalah membaca al-Qur’an dengan bacaan yang baik dan benar sesuai dengan kaidah tajwid yang telah diajarkan oleh ulama al-Qur’an. Tanpa tilawah yang baik, seseorang akan sulit untuk membaca dan menghafalkan al-Qur’an. Tilawah al-Qur’an sangat mengandalkan lisan yang lentur dan kebiasaan yang rutin sehingga sampai pada kelancaran dan menikmatinya. Belajar membaca al-Qur’an yang baik sampai mahir tidak membutuhkan waktu yang lama. Cukup satu semester saja secara normal atau 6 bulan.Teori hanya perlu diketahui saja dan itu hukumnya fardhu kifayah. Sementara menghafalkannya fardhu ain bagi setiap individu muslim. Dan yang terpenting adalah praktek membacanya. Ketika membacanya saja, bagi kalangan awam yang belum mengenal huruf sangat membutuhkan tekad yang kuat dan kesabaran ekstra. Mengingat, semangat seseorang berbeda-beda. Ada yang ‘angot-angotan’ alias hanya sebentar saja. Ada yang bertahan beberapa bulan. Dan ada pula yang bertahan lama sampai Allah memberikan kesempatan lainnya untuk mempelajari penguasaan terhadap hafalan dan dirosatnya (mempelajarinya). Belajar memang berat. Butuh keseriusan dan kebiasaan. Apatah lagi belajar al-Qur’an. Bila tidak mengenal seluk-beluknya, maka jangan harap Anda dapat tahan lama dan awet mempelajari sampai selesai. Oleh karena itu tidak heran apabila Rasulullah sangat menghargai jerih payah dan usaha keras seorang muslim dalam belajar al-Qur’an dengan ganjaran pahala yang luar biasa. Disebutkan bahwa orang yang mahir (pandai) membaca dan mengamalkan al-Qur’an maka baginya pendampingan bersama para malaikat yang selalu menyertainya. Kapan saja ia membaca, meresapi dan mengamalkannya, maka doa malaikat akan selalu bersamanya yang kelak akan mengundang pertolongan dari Allah swt dalam hidupnya. Nah, bagi orang yang belajar sambil merasakan kelunya lidah, maka ia pun tetap dihargai usaha kerasnya itu sampai ia bisa dengan dua pahala sekaligus. Pertama; pahala niatnya belajar dan kedua pahala kesulitan yang ia jumpai. Dengan syarat ia tetap bertahan belajar sampai Allah memudahkan segala kesulitan yang dijumpai. Pahala Meresapi dan Menghafalkannya Setelah kita pandai membacanya dan beranjak untuk meresapi dan memahami kandungan ayat yang dihafal, maka pahala yang Allah janjikan juga terus mengalir. Ketika seseorang memahami dan meresapi sebuah ayat atau surah, maka Allah membukakan baginya pintu-pintu hidayah-Nya. Karena al-Qur’an ini berasal dari-Nya, maka seluruh kandungan al-Qur’an adalah kebaikan. Ya, kebaikan dari-Nya, yang apabila seseorang dapat mengamalkannya, maka sungguh mulia di sisi Allah swt. Pasti Allah akan lebih mencintainya. Peresapan di sini diperoleh dengan cara memahami artinya terlebih dahulu baru kemudian menghayatinya dalam-dalam. Karena di sinilah letak kita mempelajari al-Qur’an. Dapat membaca dan memahaminya sekaligus untuk kemudian mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Kenikmatan Hafalan dan Murojaah: Tidak berhenti sampai di situ saja ganjaran yang Allah berikan kepada para pembaca dan pembelajar al-Qur’an. Tatkala seorang muslim menghafal, maka rahasia kenikmatan dari Allah padanya adalah dapat membacanya dengan baik, lancar dan penuh tadabbur (meresapinya). Semakin banyak hafalan yang ia peroleh maka akan semakin banyak waktu yang ia siapkan untuk murojaah atau mengulang-ulangnya. Maka, di sini waktu yang ia miliki akan termanfaatkan dengan baik dan penuh barokah. Karena diisi dengan ayat-ayat al-Qur’an yang kelak menghiasi usianya. Insya Allah, Allah akan berikan keberikan kepadanya keberkahan yang melimpah. Namun, terkadang kebanyakan dari orang yang menghafal al-Qur’an adalah kesulitan dalam menghafalkannya. Untuk itu maka cobalah menghafal dengan pelatihan terlebih dahulu, seperti yang sering diadakan oleh sohibul qur’an, mengenal seluk-beluknya dan lain sebagainya. Ketika anda bisa merasakan kemudahan menghafal, maka otomatis beberapa kesulitan sudah dapat anda atasi dengan baik. Dan tentu saja, anda akan bahagia saat itu, kebahagiaan yang tiada tara dan tak terlupakan. Korelasi Antara Murojaah dan Aplikasi Pengamalan Sehari-hari: Orang yang memiliki hafalan yang banyak dan bisa membacanya setiap saat dalam jumlah yang banyak, merupakan bentuk kebahagiaan tersendiri. Insya Allah, sebagian besar waktunya akan bernilai ibadah di sisi Allah swt. Karena dengan begitu berarti ia tengah bertaqorrub kepada Allah swt. Ia bertaqorrub kepada Allah dalam shalatnya, dalam diamnya, dalam pergaulannya dan bersosial. Ayat-ayat yang selalu ia baca akan melekat dalam ingatan dan selalu terngiang-ngiang di benaknya di mana saja dan kapan saja. Serta-merta, Insya Allah, al-Qur’an akan menjadi imam (penuntun) nya sebelum ia berbuat dalam kehidupan ini. Ia akan beramal sesuai dengan apa yang ia pahami dari al-Qur’an. Kalau sudah begitu, inilah yang dimaksud dengan al-Qur’an berjalan. Bukan saja berjalan pada untaiannya ketika dibaca. Tapi juga mengalir seperti air pada konteks kehidupan nyata dalam bentuk amal nyata. Inilah yang dahulu pernah dilakukan oleh generasi sahabat Rasulullah Saw sehingga mereka dikenal luas dengan generasi al-Qur’an yang unik (jiil qur’an al-fariid) yang tidak ada bandingannya sepanjang sejarah kehidupan manusia. Tak heran apabila kegemilangan demi kegemilangan hidup dan goresan sejarah kebaikan mereka toreh. Pahala demi pahala yang Allah janjikan di dalam kitab-Nya mereka realisasikan. Dan inilah penguasaan yang ideal terhadap al-Qur’an yang memang Allah perintahkan kepada setiap kita selaku muslim yang sejati. Mengamalkan al-Qur’an, menjalankan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya dan menegakkan syariat al-Qur’an dalam kehidupan nyata. Dan beginilah seharusnya kita. Jadi, jangan lagi pernah menganggap belajar al-Qur’an hanya sekedar belajar membaca dan menghafalkannya saja. Tapi visinya lebih dari itu, yakni mengamalkan seluruh ajaran al-Qur’an dan bimbingan Rasulullah pada setiap sendi kehidupan kita di dunia ini. Yang memang awalnya dimulai dari belajar membaca. Karena tak ada keindahan selain banyak membaca dan memahami isi al-Qur’an. Dan inilah tantangan sekaligus keutamaan yang besar dari Allah bagi siapa saja yang mau mengambil kesempatan mulia ini. Semoga al-Qur’an selalu menjadi petunjuk kita di dunia sampai akhirat kelak, Amiin Wallahu A’lam bish-showab. Sumber

Pahala yang Berlipat-lipat Dari Al-Qur’an Read More »